KONSEP WALI MUJBIR IMAM SYAFI’I DALAM PERSPEKTIF HAM (HUMAN RIGHT)

  • niswatul faizah universities billfath Lamongan
Keywords: Wali Mujbir, Imam Syafi'i, HAM

Abstract

Perkawinan bukan sekedar ikatan dua insan berlainan jenis yang berfungsi menentramkan jiwa, menyalurkan dorongan biologis secara benar dan menjaga kesucian diri dan yang terpenting adalah membentuk generasi penerus syi’ar Islam, melahirkan anak yang shaleh shalihah, penerus perjuangana Islam secara kontinyu dan turun temurun sampai hari kiamat. Dalam islam, perkawinan atau pernikahan bertujuan untuk menyatukan laki-laki dan perempuan dalam satu ikatan dan diharapkan dapat menimbulkan rasa cinta satu sama lain. Sesungguhnya islam telah mensyariatkan perkawinan, dan meletakkan untuknya suatu peraturan yang rapi, berdasarkan prinsip yang paling kokoh dan mampu menjamin terpeliharanya masyarakat, kebahagiaan keluarga, tersebarnya keutamaan, luhurnya budi dan langgengnya umat manusia.

Dalam kenyataannya masih banyak yang berfikir bahwa semua hasil pemikiran para ulama terdahulu harus diikuti walaupun pada zaman sekarang sudah tidak relevan lagi. Namun jika cara mempraktekkannya tidak diimbangi dengan pemahaman kontekstual akan membawa pada kebekuan pemikiran dan kejumudan berfikir dalam menjalankan ajaran agama. Karena Salah satu karakter Hukum Islam adalah bersifat fleksibel, sesuai dengan kondisi zaman. Memilih jodoh merupakan salah satu prinsip perkawinan yang sering kali berbenturan dengan hak ijbar yang dimiliki oleh walinya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan pendapat Imam Syafi‟i tentang hak ijbar wali terhadap gadis dan janda serta menganalisa bagaimana pandangan Imam Syafi‟i hak ijbar wali terhadap gadis dan janda ditinjau dari perspektif HAM (human Right).

Published
2020-03-28